Sebuah Pesan di Novel Sabtu Bersama Bapak

sabtu-bersama-bapak_revisi-cover

Cover Sabtu Bersama Bapak

Pernah membaca novel “Jomblo”? Atau pernah membaca novel “Gege Mengejar Cinta”? Jika Anda pernah membaca dua novel tadi, tentunya sudah tahu siapa pengarangnya. Yap, pengarangnya adalah Adhitya Mulya.

Nah, Sabtu kemarin saya baru saja mendapatkan novel terbarunya Adhitya Mulya yang berjudul “Sabtu Bersama Bapak”. Sudah lama banget saya mencari novel kelimanya Adhitya Mulya, namun selalu habis di toko buku. Entah strategi pemasaran atau memang benar-benar sold out.

Namun, di luar itu, saya sangat penasaran dengan novel Sabtu Bersama Bapak. Hal pertama membuat saya penasaran adalah judulnya. Menurut saya, untuk sebuah novel, judul dengan mengangkat bapak bisa dibilang jarang dan unik. Apalagi di tambah Sabtu Bersama Bapak. Saya semakin berpikir, “Apa yang dilakukan anak-anak dan dengan bapaknya di hari Sabtu?”

Menjalani kehidupan tanpa bapak

Setelah membaca prolognya, ternyata dugaan saya salah. Sabtu Bersama Bapak bukan cerita tentang anak-anak dan ibunya di hari Sabtu Bersama Bapak. Tetapi justru cerita tentang kehidupan dua anak laki-laki dan ibunya tanpa bapak.

Jadi, novel Sabtu Bersama Bapak bercerita tentang seorang ibu yang bernama Bu Itje yang harus membesarkan dua anak laki-lakinya yang bernama, Satya dan Cakra tanpa kehadiran sang Bapak (Gunawan Garnida).

Gunawan Garnida meninggal ketika Satya dan Cakra masih kecil. Namun, sebelum Pak Gunawan meninggalkan keluarganya, dia meninggalkan beberapa pesan untuk kedua anak laki-lakinya yang dibuat dalam bentuk rekaman video. Cerita langsung berlanjut ketika Bu Itje memutarkan video pertama untuk anak-anaknya yang berisi pesan Pak Gunawan.

Bagimana Satya dan Cakra tumbuh tanpa bapak? Satya telah bekeluarg dan harus menghadapi berbagai persoalan masalah keluarga. Namun, dengan pesan-pesan Pak Gunawan (alm) dalam rekaman videonya, Satya sempurna melewati persoalan keluarga dan berubah menjadi lebih baik.

Sementara, Cakra tumbuh jadi laki-laki yang sukses dalam karir namun sangat payah dalam urusan cinta. Dia selalu menjadi bahan ledekan teman sekantornya karena malu dan takut ketika mendekati wanita yang ditaksirnya.

20141017_212216

Selfie, Sabtu Bersama Bapak :)

Novel Sabtu Bersama Bapak memberikan pesan yang ringan dengan media video rekaman. Menurut saya, media ini dipakai untuk menghindari penyampaian pesan yang menggurui.

Selain memberikan pesan dan pelajaran untuk anak-anak, novel ini juga sangat memberikan pesan dan pelajaran untuk pasangan suami dan isteri. Bahwasanya, kita harus menerima segala kekurangan pasangan kita. Dengan memilih dia sebagai pasangan hidup kita, berarti kita sudah siap menerima dia apa adanya.

Sabtu Bersama Bapak sangat layak dibaca. Ceritanya sangat berbeda dengan novel-novel Adhitya Mulya sebelumnya. Sabtu Bersama Bapak dibawakan dengan ringan namun berbobot. Sangat cocok bagi bapak ataupun calon bapak.

Sabtu Bersama Bapak, keren!

So, buruan baca novelnya. Kamu bisa beli di toko buku terdekat atau di toko buku online!

Adi Hartanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *